Akh_Gum

menjadi penolong agama Allah SWT adalah satu-satunya profesi yang selalu membuka lowongan bagi pekerja baru. namun menyambung rantai dakwah para rosul tidaklah mudah. Bila diibaratkan dakwah sebagai pohon, ada saja daun yang akan gugur tapi dibalik gugurnya daun tersebut akan tumbuh tunas-tunas baru. Sedangkan daun yang gugur tidak lebih hanya akan menjadi sampah.


KODE PPC ANDA

Penjara dan tiang gantung. Inilah dua kata yang -barangkali- merupakan icon paling penting dalam sejarah tirani abad ke-20. Khususnya di dunia ketiga. Lebih khusus lagi di dunia Islam. Tapi di hadapan tirani itulah terbentang riwayat kepahlawanan yang agung: tradisi perlawanan. Seakan-akan pasangan sejarah memang harus selalu hadir begitu: ada diktator ada petarung, ada tirani ada perlawanan.Dalam sejarah tradisi perlawanan: penjara adalah sekolah yang membesarkan para pahlawan. Tapi tiang gantung adalah karunia Ilahiyah yang mengabadikan mereka. Para pemikir dan ulama besar dunia Islam saat ini, seperti Syekh Muhammad AI-Gazali, Syekh Yusuf Qordhowi, Muhammad Quthub, DR. Ali Juraisyah dan lainnya, memang tumbuh dalam tradisi perlawanan. Tapi mereka menjadi lebih kokoh setelah tamat dari sekolah penjara. Sementara itu mereka yang gugur di jalan perlawanan itu, baik oleh timah panas maupun di tiang gantung, seperti Hasan AI-Banna dan Sayyid Quthub, dengan bangga meraih medali Ilahiyah itu: menjadi bintang abadi di langit sejarah.

Bintang itu terus menerus menerangi jalan para petarung. Dalam tradisi perlawanan. Persis seperti kata Sayyid Quthub dalam sebait puisinya:

Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan Jilin-Jilin dari tulang belulangku
jalanlah terus ke kemenangan abadi

Tradisi perlawanan selalu lahir dalam kesunyian. Ketika kekuasaan berubah jadi momok yang menyeramkan: tirani. Sementara semua mulut terbungkam ketakutan, sejarah menjadi milik para penguasa. Kamu hanya sedikit disini. Bahkan mung kin sendiri. Kamu mung kin disebut pengkhianat bangsa. Tak ada gemuruh tepuk tangan yang menyebutmu pahlawan. Sunyi. Sepi. Tapi kamu harus menyerahkan darahmu. Nyawamu.

Mungkin suatu saat perlawananmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu, mungkin kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Sendiri. Tapi itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di surga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad. Bukan. Jihadnya jihad.

Melawan dalam sepi itulah susahnya. Melawan sendiri itulah kepahlawanannya. Memang apa yang kamu lawan? Kekuasaan. Kekuasaan yang memiliki semua. Semua orang. Semua uang. Semua simpati. Sementara kamu, kamu tidak punya apa-apa. Kamu hanya mewakili dirimu sendiri. Tekadmu sendiri.

Itu sebabnya, ketika Rasul kita ditanya: “Jihad apakah yang paling utama?” Katanya: “Menyatakan kebenaran di depan penguasa tiran.”

KODE PPC ANDA

Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

0 komentar

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)